Berupa Informasi Terdepan mengenai teknologi dan informasi dan juga informasi mengenai Software, Tips & Trik, Full Version dan lainnya
Tampilkan postingan dengan label Cerbung Rasha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung Rasha. Tampilkan semua postingan
Senin, 15 April 2013
Cerpen / Cerbung Marsha Dan Rafli (RaSha): Mungkin Ini Takdir | Part 4
-- Takdir Part 4 --
Marsha berdiri di gerbang sekolahnya sambil sesekali melirik jam tangan
biru muda yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir
setengah jam Marsha menunggu supirnya yang biasa mengantarkan ia pulang.
Tiba tiba
HP Marsha bergetar. Tanda sebuah pesan masuk. Marsha cepat cepat menekan sebuah
tombol untuk membaca isi pesan itu.
1 new message – pak ahmad
From : pak ahmad
Aduh non. Mobilnya mogok.
Non Marsha pulang naik taksi aja ya.
Marsha mendecakkan lidahnya berkali kali. “kalo gue gak di jemput. Gue
pulang ama siapa dong? Masa gue harus nungguin taksi sih. mana ada taksi
di sini” ucap Marsha.
Marsha mengedarkan pandangannya ke
sekolah. Sudah sepi. Yang tertinggal hanyalah Rafli yang sedang berjalan
menuju motrnya yang di parkir. Marsha sempat berniat untuk nebeng ama
Rafli. namun teringat kejadian beberapa hari
lalu, saat Marsha lepas kontrol mengatakan suka pada Rafli. ia menjadi segan untuk
meminta bantuan kepada Rafi. apalagi akhir akhir ini ia sudah tidak pernah
menegurnya lagi.
Marsha hanya menghela nafas lalu mulai berjalan pergi dari sekolahnya.
Ia hanya berharap ada sebuah taksi yang bias mengantarkannya sampai ke
rumah. Semoga saja. Semoga..
Dimana ini?
Ya tuhan..
dimana kah ini? Marsha baru sadar bahwa dirinya sama sekali tak tahu
jalan. Marsha terus berjalan. Mengikuti kemana langkah kakinya
membawanya. Sudah hampir satu jam ia berjalan. Namun tak ada satu ekor
taksi
pun yang Nampak. Dan sekarang ia sama sekali tak tahu dimana dirinya sekarang
berada.
Marsha terduduk lemas di pinggir trotoan jalan. Jalan itu sepi. Tak ada
satu kendaraan pun yang lewat. Jangankan sebuah kendaraan. Orang –
orang pun mungkin segan untuk kesini. Marsha hanya duduk sambil memeluk
kedua
lututnya sendiri, dan membenamkan wajahnya di antara tangannya. Ia hanya
berharap ada orang baik yang mau mengantarkannya pulang ke rumah dengan selamat..
lagi lagi hanya berharap..
Marsha bisa merasakan sebuah kendaraan yang melaju ke arahnya. Dan
berhenti tepat di hadapannya. Ia mengangkat wajahnya sedikit. Ia melihat
sebuah Caviga merah. Marsha mengenal motor itu. itu motor.. Rafi. ia
mendongkakan
kepalanya, agar dapat melihat wajah sang dewa penolongnya. Ia hanya menatap Rafli
tanpa bersuara.
“naik..”seru Rafli
Marsha hanya diam tak bergeming. Tiba tiba saja. Ia berdiri dan memeluk Rafi. tangisnya pecah saat itu juga.
“gu.. gue.. takut.. gue.. takut..” tangisnya.
Perlahan Rafli mengangkat tangannya. Mengelus lembut rambut Marsha.
Mencoba menenangkan gadis yang pernah menjadi belahan jiwanya. Mungkin
sampai sekarang..
Rafli melepaskan pelukannya. Mengusap air mata Marsha dengan ujung jarinya. Dan menatap mata Marsha dengan lembut.
“lo jangan nangis lagi ya Sha. Gue ada disini. Lo gak usah takut. Gue
pasti bakalan terus.. jagain lo..” ucap Rafli lirih. Apa mungkin? Apa
bisa ia menepati kata – katanya sendiri. Mungkin ia hanya bisa
menepatinya hari
ini saja. Esok? Siapa yang tahu. Itu hanyalah takdir yang tuhan beri untuknya.
“yaudah lo naik gih. Gue anterin lo pulang..” ucap Rafli. Marsha
menurut, ia hanya menganggukan kepalanya lalu menaiki motor Rafli.
*** Rafli's Home ***
Rafli keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamarnya sambil
mengeringkan rambutnya. Ia duduk di tepi tempat tidurnya dengan handuk
yang menempel di lehernya. Kata kata Marsha masih jelas terdengar di
telinga Rafli. “gue tau lo baik ka. Pasti lo punya alesan di balik sikap
lo yang dingin”.
Ia berjalan menuju cermin. Memandangi
pantulan bayangan dirinya di cermin. Tak ada yang istimewa darinya.
Kenapa Marsha harus menyukainya. Hanya ada luka. Luka bekas operasi
jantung yang ia lakukan setahun yang lalu.
Setahun yang lalu.. ya, semenjak saat itu ia sadar bahwa dirinya sudah tak utuh
seperti dulu. Ia tak memiliki jantung. Yang ia miliki hanyalah sebuah jantung
elektrik. Ia tahu bahwa sebuah jantung elektrik tak bisa terus terusan berdetak
di dalam tubuhnya. Seberapa tahan sih sebuah jantung elektrik. Ia yakin pasti
jantung itu akan berhenti juga. Entahlah kapan jantung itu akan berhenti.. lagi
lagi ini hanyalah takdir tuhan yang di beri untuknya. Sebuah takdir..
“gue pingin hidup.. gue.. pingin.. hidup..” lirih Rafli
-------------------------------------------------------------------
Share + Comment Yah :)
Follow ==> @donnyrieuwpassa
Yang Belum Baca Part Sebelumnya bisa liat dibawa... ato bahkan mau next klik aja yang dibawah
Cerpen Marsha Dan Rafli (RaSha): Mungkin Ini Takdir | Part 3
Cerpen Marsha Dan Rafli (RaSha): Mungkin Ini Takdir | Part 3
Rafli
berjalan menuju parkiran tempat ia memarkir Caviga Merah miliknya.
Namun langkahnya terhenti ketika seorang gadis memanggil namanya. Ia
mengenali suara itu. karna ini bukan yang pertama kalinya gadis itu
menemui
Rafli sepulang sekolah. Mungkin ini sudah yang ke lima kalinya. Atau mungkin
lebih.
Mau tak mau Rafli membalikan tubuhnya. Ia mendapati Marsha sudah
berdiri di belakangnya dengan senyum lebar di wajahnya. Rafli hanya
mengangkat sebelah alisnya seakan bertanya ‘mau apa lagi lo’.
“hai ka. Mm.. gini. Mm.. gimana yak..” terlihat jelas kegugupan dari
wajah Marsha. Rafli benar benar sudah merasa jengkel dengan gadis satu
ini. Ia membalikan tubuhnya dan berjalan pergi ke parkiran tanpa
menghiraukan Marsha
Marsha menysul Rafli sambil memanggil –
manggil namanya. Namun Rafli tak menghiraukannya. Tapi Marsha tak merasa
putus asa sedikit pun, ia terus memanggil – manggil nama Rafli.
“ka.. ka Rafli.. ka Rafli…”panggil Marsha. Rafli berbalik ke arah Marsha.
“mau ngomong apa lo?!” Rafli setengah membentak
“itu.. mm.. jadi gini..”
“udahlah! Males gue berurusan ama orang kayak elo !!” bentak Rafli.
lalu ia berbalik dan tiba tiba saja langkahnya terhenti ketika..
“gue suka sama elo ka..” ucap Marsha lantang. Rafli menghentikan
langkahnya. Namun tetap membelakangi Marsha. Ia hanya diam mematung.
Tapi sesaat kemudian ia tersadar. lalu Rafli berjalan pergi.
Meninggalkan Marsha.. sendiri..
Marsha berdiri mematung. Ia
sendiri tak bisa mengontrol perkataan yang terlontar dengan sendirinya
dari mulutnya. Ia hanya bisa merutuki dirinya sendiri atas perkataan
bodoh yang ia katakana tanpa bias ia
cegah. Kata kata itu terucap begitu saja saat Rafli akan meninggalkannya. Seakan
ia tak mau di tinggalkan olehnya.. oleh Rafli…
*** Rafli's Home ***
Rafli membanting ranselnya di tempat tidur. Lalu ia duduk di tepi
tempat tidurnya masih dengan seragam yang menempel di tubuhnya. Ia
mengacak – ngacak sendiri rambutnya.
“aarggh… maksud tuh cewek
apaan sih !! seenaknya aja ngomong suka ama gue ! emang dia kira dia
siapa? Berani beraninya ngomong kayak gitu ama gue.. aarrgh
sialan..”ucap Rafli setengah berteriak. Rafli mengacak – acak
rambutnya lalu menghempaskan tubuhnya.
“kenapa dia harus suka ama gue? Kenapa harus dia? Kenapa juga dia itu
harus suka ama gue? Kenapa harus cewek yang gue cintai ngomong suka ama
gue? Kenapa harus gue?.. gue gak pantes buat elo Sha.”lirih Rafli
Rafli sudah sejak lama memiliki perasaan terhadap Marsha. Semenjak
gadis itu masuk ke sekolah yang sama dengan Rafli. bahkan ia mengetahui
segala sesuatu tentang Marsha. Namun perasaan itu harus di buangnya jauh
- jauh
saat ia sadar bahwa dirinya tak mampu membuat gadis yang di cintainya itu
bahagia. Hanya air mata dan kesedihan yang akan ia berikan. Bukan kebahagiaan.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Like + Comment yah :)
NEXT:
Mungkin Ini Takdir Part 4:
Cerpen / Cerbung Rafli Marsha (RaSha): Mungkin ini Takdir | Part 2
Marsha
berjalan menuju lapangan basket di sekolahnya. Berharap bisa menemui
sosok pria yang tlah membuat jantungnya berdebar tak karuan. Ini bukan
yang pertama kalinya untuk Marsha memperhatikan sosok itu secara diam –
diam. Bahkan ini sudah menjadi rutinitasnya sejak bertemu dengan pria itu.
Semakin sering ia memperhatikan pria itu, semakin besar juga perasaannya untuk
pria itu. dan tanpa sadar seulas senyum telah mengembang di wajahnya.
Marsha bukanlah gadis yang gampang menyukai seorang pria. Tapi entahlah,
kenapa ia
bisa memiliki perasaan yang begitu dalam terhadap pria ini. Mungkin ini yang
dinamakan ‘love at the first sight’.
Cindai menepuk pundak Marsha “Sha kok lo belom pulang sih?”
“mm.. bentar lagi.” Marsha tak mengalihkan pandangannya sedetik pun dari sosok pria itu.
“lo merhatiin siapa sih?” Cindai bertanya. Namun Marsha tak menjawab
pertanyaannya. Ia mengikuti arah pandang Marsha dan menemukan sesosok
kakak kelas yang menjadi idaman di sekolahnya.
“oh.. merhatiin ka Rafli toh..” gumam Cindai. Namun dapat di dengar jelas oleh Marsha.
“ka.. Rafli?” Marsha menoleh cepat ke arah Cindai.
“iya ka Rafli. cowok yang lo perhatiin itu namanya Rafli. dia itu kakak kelas kita.”jelas Cindai
“oh Rafli. mm.. tapi kok gue jarang liat dia bareng ama temen temennya
ya.. kalo main basket juga pasti sendiri terus..” Tanya Marsha sambil
kembali memperhatikan sosok Rafli
“gue kurang tau juga sih.
tapi denger – denger sih sikapnya dia itu dingin banget ama cewek.
Senyum aja susah. Apalagi liat dia ketawa. Wuih langka banget. Terus dia
itu terkesan ‘kasar’ ama cewek..” jelas Cindai.
Marsha hanya manggut – manggut mendengar penjelasan dari sahabatnya yang satu ini.
Cindai melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya “gue
balik duluan ya Sha.. bye..” pamit Cindai sambil berjalan menjauh dan
melambaikan tangannya.
Marsha kembali memerhatikan sosok Rafli. pria yang misterius pikirnya. Dan itu membuat dirinya semakin tertarik.
Rafli menghentikan permainannya. Sepertinya ia mulai kelelahan. Ia
meraih ranselnya dan menyelempangkannya di bahu kirinya. Ia menuju
parkiran sambil mendrible sebuah bola basket.
“tegur? Jangan?
Tegur? Jangan? tegur? Jangan? Tegur? Jangan?tegur..” Marsha bergumam
sendiri. Rafli sudah semakin menjauh dari pandangannya. “tegur aja
deh..” Marsha berlari lari kecil mengejar Rafli.
“ka Rafli..” Marsha setengah berteriak.
Rafli membalikan badannya. Ia melihat seorang gadis yang berlari ke arahnya. Namun tak ada ekspresi apapun di wajahnya.
“ka Rafli kan?”Tanya Marsha setelah berhasil menyusul Rafi.
“masih inget gue gak?” Tanya Marsha. Namun Marsha hanya mengerutkan
keningnya. Marsha mulai membuka mulut kembali “itu.. yang waktu itu kena
bola basket yang lo mainin??” Tanya Marsha. Namun ekspresi Rafli hanya
datar –
datar saja. Suara pun tak ia keluarkan.
“mm..
mungkin lo lupa. Yaudah, gue Marsha..” Marsha menjulurkan tangannya dan
memamerkan senyum termanisnya. Namun ekspresi Rafli tak berubah sedikit
pun. Ia malah membalikan tubuhnya dan berjalan pergi. Meninggalkan
sosok Marsha.
Marsha menarik kembali tangannya. Kecewa? Ya, ia memang merasa kecewa.
Namun rasa kecewanya tak mengurungkan niatnya untuk mengenal sosok Rafli
lebih jauh. Ia bertekad dalam hati untuk bisa membuat Rafli tersenyum.
Tidak..
bukan hanya tersenyum. Tapi tertawa. Ya. Tertawa lepas…
“Sha.. ngapain sih lo deketin si ka Rafli? kalo lo knapa – knapa
gimana? Dia kan agak ‘kasar’ gitu ama cewek. Lo gak takut apa?” kata
Cindai.
Marsha menggelengkan kepalanya. “nggak sama sekali..”
“gila lo Sha. Ngapain coba lo deketin cowok kayak dia.”
“yaah.. gue emang gila. Mau ikut nyamperin ka Rafli kagak lo?”
“kagak deh.. “ sahut Cindai sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
“yaudah. Lo liat ya. Ka Rafli itu gak akan makan gue idup – idup..”
Marsha berjalan mendekat ke arah Rafli yang sedang sibuk dengan bola basketnya. Ia mendekati Rafli perlahan.
“hai ka rafli..” sapa marsha. Tak ada jawaban dari Rafli. ia hanya
menoleh sekilas dan kembali sibuk dengan bolanya. Marsha mengela nafas.
‘sabar Sha.. sabar ‘ batin Marsha.
“kak gue bawain minuman nih.
Lo pasti aus kan?” tawar Marsha sambil menyodorkan sebotol pocari sweat
kearah Rafli. namun Rafli tetap tak menghiraukannya. Malah ia tak
menoleh sedikit pun.
“yaudah. Gue simpen disini aja ya..”
Marsha meletakkan sebotol pocari sweat di dekat kaki Rafli. lalu
berjalan pergi meninggalkan Rafli.
Rafli menoleh kearah sebotol
pocari sweat yang di letakan marsha di dekat kakinya lalu memandang
punggung Marsha yang berjalan menjauh. Tanpa sadar ujung bibir Rafli
tertarik sedikit demi sedikit hingga membentuk sebuah senyum
tipis.
------------------------------------------------------------------
Like + Comment yah :)
NEXT:
Mungkin Itu Takdir | Part 3 :
Cerpen / Cerbung Rafli Marsha (RaSha) : Memang ini Takdir | Part 1
Marsha
tengah berlari lari kecil ke arah toilet sekolahnya. Namun langkahnya
terhenti ketika seorang gadis seumuran dengannya yang bernama Cindai
memanggil namanya. Sontak Marsha menoleh ke arah Cindai yang sedang
berlari
ke arahnya.
“Marsha aw..”belum sempat Cindai
menyelesaikan kalimatnya. Sebuah bola basket telah melesat ke arah
Marsha dan membentur kepalanya.
Bukk… Marsha jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya.
Marsha mengerang kesakitan sambil mengelus – elus kepalanya yang
terbentur bola basket ‘nyasar’ itu. ia meraih bola basket yang
tergeletak di sampingnya.
“dasar bola basket sialan! Gak punya
mata apa lo ! seenaknya aja ngebentur pala orang. Kalo gue gegar otak
gimana. Emang lo bakalan tanggung jawab apa?. Ini bola punya siapa
lagi?”
“punya gue..”ucap seorang cowok hitam manis yang berbadan tegap dan gagah itu.
Marsha mendongkakkan kepalanya. ia baru akan membuka mulut untuk
memarahi orang yang sudah membuat kepalanya sakit itu. namun saat
melihat wajahnya yang tampan, Marsha hanya memandangi orang itu tanpa
berkedip sedikit
pun. Ia baru tersadar saat orang itu mengambil bola basket yang Marsha pegang dengan kasar.
“eh..” baru saja Marsha berniat untuk menanyakan namanya. Orang itu
sudah berlari kearah lapangan dan mulai bermain basket kembali. Marsha
hanya memandangi orang itu sambil senyam senyum sendiri.
“Sha.. lo gak papa??”tanya Cindai sambil membantu Marsha berdiri.
“hehe. Tenang aja. gue masih sehat walafiat kok.”
“oh.. syukur deh. Gue kira lo gegar otak gara – gara tuh bola basket. Lo tadi mau kemana? Main ngilang gitu aja?”
“oh.. tadi gue mau ke toilet. Kebelet! Eh.. jadi aja lupa. Gue ke
toilet bentar..” Marsha kembali berlari lari kecil menuju toilet
sekolahnya.
----------------------------------------------------------------------------
Minta Share + Commentnya yah :)
NEXT:
Cerpen Part 2:
Langganan:
Postingan (Atom)
