Laman

Tampilkan postingan dengan label Cerbung Rasha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung Rasha. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 April 2013

Cerpen / Cerbung Rafli Marsha (RaSha) : Mungkin Ini Takdir | Part 5 (Terakhir)

Seperti biasa, sepulang sekolah Rafli selalu bermain basket sendirian di sekolah. Tapi tidak untuk kali ini. Ia tidak sendiri. Kali ini ia di temani oleh Marsha. Ia hanya ingin menepati janjinya untuk terus menjaga gadis
itu. semampunya. Sampai takdir sendiri yang bisa menghentikannya. Hanya takdir…

“kak pulang yuk.. udah mau sore nih.” Ajak Marsha. Rafli hanya menoleh dan tersenyum, lalu menghampiri Marsha.

“nih minum dulu. Lo aus kan..” kata Marsha sambil menyodorkan sebotol air mineral yang sengaja di belinya untuk Rafi.

“thanks Sha.”

“yuk pulang..” ajak Rafli.

Marsha bangkit dari duduknya lalu mengiringi Rafli menuju parkiran sekolahnya.

“ka. Kok lo suka banget sih main basket?” Tanya Marsha

“karna setiap gue main basket, gue selalu ngerasain jantung gue hidup..”

Marsha manggut manggut, padahal ia sama sekali tak mengerti maksud perkataan Rafli barusan. ‘Bukannya jantung ka rafli emang udah hidup ya. Buktinya aja dia sehat gitu’ fikir Marsha

“sha. Lo mau gak gue ajak ke tempat favorit gue?”

“hah? Mau.. mau.. dimana??” Tanya marsha antusias. Jarang sekali ia mendengar suara pria yang membuatnya jatuh hati ini.

“ntar juga lo tau..”

***
Rafli mengajak Marsha ke sebuah taman yang terdapat sebuah danau. Ia mengajak marsha duduk di tepi danau tersebut..

“gimana sha tempatnya?” Tanya rafli. namun matanya tak menatap Marsha sedikit pun.

“bagus.. enak lagi udaranya.”

“syukur deh kalo lo suka. Mm. lo tau gak apa yang gue suka dari tempat ini.” Marsha hanya menggelengkan kepalanya. Walaupun pandangan rafli lurus ke depan, ia bisa mengetahuinya.

“kalo sore sore gini, gue paling suka liat pantulan cahaya matahari di air danau ini. Kelihatannya indaaah banget. Warna air danaunya jadi agak kekuning kuningan gara – gara pantulan cahaya matahari. Trus kalo malem
gue paling suka kalo cahaya dari bintang bintang menghiasi air danau ini. Mmm.. rasanya gimana ya? Gue serasa liat lautan yang penuh bintang di hadapan gue…”seru
rafli. senyuman tak luput dari wajahnya. Sorot matanya pun memancarkan
kebahagiaan. Dia belum pernah merasa sebahagia ini.

“sha.. sha kok lo diem aja sih..” Tanya rafli sambil menoleh ke arah Marsha. Dan ia mendapati Marsha sedang memandangnya sambil tersenyum..
“nggak papa..” marsha menggeleng pelan. Lalu meluruskan pandangannya. Menatap kilauan air yang berwarna keemasan di hadapannya. “ gue seneng aja bisa liat lo bahagia banget. Apalagi baru kali ini gue dengar lo
ngomong panjang lebar.” Lanjutnya.

Rafli hanya tersenyum mendengar perkataan dari marsha. Ia kembali memfokuskan pandangannya ke air danau. Sepi.. sunyi.. itulah perasaan yang menyelimuti mereka. Tak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka berdua
saling diam.. menikmati kebahagiaan mereka masing masing.

“gue sakit sha..” lirih rafli. namun wajahnya masih tersenyum.
“ sakit.. sakit banget.. disini..” rafli mengangkat tangan kanannya dan menempelkannya di dada sebelah kirinya.

“sakit. Sakit hati..” sahut Marsha sambil terkekeh. Sedangkan rafli hanya tersenyum. Pandangannya seperti menerawang.

“pulang yuk sha..” ajak rafli sambil berdiri. Yang di ikuti oleh Marsha.

Marsha berjalan mengiringi Rafli. dan tanpa di duganya secara perlahan Rafli menggandeng tangannya. Marsha spontan langsung menoleh kearah Rafli. namun rafli hanya tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya ke arah marsha. Malah ia
semakin erat menggenggam tangannya.

Mereka berjalan menuju tempat rafli memarkirkan motornya. marsha mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman. Cukup ramai juga disini.. banyak pasangan yang sedang berpacaran disini. Ada juga anak anak remaja seumuran Marsha
yang hanya sekedar berjalan jalan. Bahkan anak anak pun banyak yang berlarian
kesana kemari sambil bermain kejar kejaran. Bahagia? Ya.. bahagia sekali.. hari
ini ia merasa sungguh sangat bahagia. Ia sama sekali tak menyangka. Rafli yang
selalu di sebut sebut bersikap dingin bahkan cenderung kasar bisa
menggandengnya seperti ini. Menggandengnya erat.. sangat erat..

Kebahagiaan tak bertahan lama?

Tiba tiba saja kebahagiaan itu seakan lenyap dan tergantikan oleh sebuah kepanikan. Tiba tiba saja Rafli menghentikan langkahnya. Genggamannya melonggar. Tangan kanannya memegangi dada sebelah kirinya. kakinya sudah terasa
lemas. Bahkan ia pun terjatuh sambil berkata “sakit sha.. disini.. Sakit.” Tak terasa
air mata marsha pecah saat itu juga. Ia hanya bisa mengelus ngelus lembut rambut
rafli sambil meminta tolong kepada orang – orang yang berada disitu. Tak perlu
menunggu lama orang orang pun sudah mengerumuni mereka berdua.

“panggil ambulance..”

***

Marsha terduduk lemas di depan ruang UGD. Air matanya sudah mengalir sejak tadi. Matanya sudah sembab dan merah. Tak lama kemudian Cindai pun datang dan di ikuti oleh orang tua dari rafli. Cindai langsung menghampiri marsha.

“ka rafli cin.. ka rafli..”tangis marsha sambil memeluk sahabatnya itu. cindai mengelus elus pundak sahabatnya sambil berusaha menenangkan marsha.

“tante.. ka rafli kenapa tante?” Tanya marsha ke mamahnya rafli.

“maafkan rafli nak. Dia sudah menyembunyikan semua ini dari kalian..” kata mama rafli

“maksud tante apa..”

“rafli mempunyai penyakit jantung. Jantungnya sudah tak bisa berfungsi dengan baik. Sudah satu tahun ia bertahan dengan jantung elektrik yang menggantikan jantungnya..” ucap mama rafli sambil menangis.

Marsha hanya bisa menangis mendengarkan penjelasan dari mama rafli

“sabar sha.. sabar..” ucap cindai menenangkan Marsha yang sedang menangis dalam pelukannya.

***

Rafli sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa. Dan ia sendiri sudah bisa membuka matanya kembali. Sedangkan marsha hanya bisa menangis sambil duduk di samping tempat tidur rafli. ia menangis sambil menundukan kepalanya. Sampai
sampai tak menyadari bahwa rafli sudah sadar

Ia menggerakan tangannya perlahan dan menggenggam tangan marsha. Sontak marsha pun langsung mendongkakan kepalanya. Ia melihat rafli yang sedang tersenyum padanya. Walaupun mukanya
terlihat pucat. Lagi lagi ia tak bisa membendung air matanya. Air matanya
mengalir lembut di pipi marsha. Walaupun tanpa sebuah isakan.

“jangan nangis..” lirih rafli.

Ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengangkat tangannya dan mengusap air mata marsha dengan ujung jarinya.

“jangan nangis..” lirih rafli sekali lagi. Namun bukannya membuat marsga berhenti menangis malah membuat tangisnya semakin keras.

“yaudah kalo lo gak kuat. Lo boleh nangis sekarang. Tapi lo harus janji buat besok gak boleh ada air mata lagi. Janji..” rafli mengacungkan jari kelingkingnya. Bukannya mengaitkan jari
ia hanya menunduk dan membiarkan air matanya mengalir semakin deras.

“ayo dong sha. Lo harus janji. Demi gue sha..” ucap rafli lirih. Marsha hanya menggeleng lemah.

“janji..” rafli mengacungkan kelingkingnya sekali lagi.Marsha hanya menggigit bibir kemudian mengaitkan jari kelingkingnya di kelingking Rafli. sambil mengusahakan seulas senyum tipis.

“janji..”

Terdengar suara pintu di buka. Dan di susul oleh ke hadiran ke dua orang tua rafli.

“gimana kata dokter mah?” Tanya rafli

Mamahnya hanya menggeleng lemas. “kondisi kamu udah semakin parah yo. Satu satunya jalan Cuma dapet transplantasi jantung. Sedangkan jumlah pendonor akhir akhir ini semakin sedikit..” suara mama rafli terdengar sedikit
bergetar.

rafi hanya tersenyum “ gak papa mah. Mamah gak usah nungguin rafli di rumah sakit ya mah. Hari ini rafli pengen di temenin sama marsha mah..”ucap rafli sambil melirik marsha.

“iya tante. Ka rafli biar marsha yang jaga. Tante istirahat di rumah aja.” sahut marsha

“yaudah. Tante ijinin ke orang tua kamu ya sha. Tante pamit dulu. Ntar kalo ada apa apa telpon tante aja..”

***

Jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Marsha pun sudah terlelap. Rafli meletakan sebuah surat di meja kecil di samping. Ia mengangkat tangannya perlahan. Mengusap lembut rambut Marsha sambil tersenyum “gue cinta sama lo Sha. Gue
sayang sama elo.. sayaang… banget..” lirih Rafli. ia lalu mengangkat tangannya ke
dada sebelah kirinya. “sakit Sha.. disini. Sakit banget.. bukan hati.. tapi jantung.
Sakiit banget.. gue udah gak kuat Sha. Gak kuat..” lirih Rafli.

ia kembali mengusap lembut rambut Marsha. “kenapa takdir gue gini ya Sha. Kenapa gue di takdirin punya penyakit ini... Tapi gue beruntung sha. Karna takdir juga udah mempertemukan kita. Dan hanya takdir yang bisa
memisahkan kita..” lirih rafli. tak terasa air matanya jatuh.

“jangan nangis.. jangan nangis.. Cuma hari ini saja.. kali ini..”

***

Marsha memandang nanar kearah nisan yang berada di hadapannya. Air matanya sudah kering. Matanya merah dan sembab. Hanya sebuah isakan yang tertinggal. Tangan kanannya menggenggam kuat sepucuk surat. Ya.. surat dari
Rafli. hujan turun dangan derasnya seakan ikut menangisi kepergian Rafli..
kepergiannya.. kepergian cintanya.. oleh takdir.

*****

Jangan nangis Sha..

Gue mohon jangan nangis..

Maaf Sha, kalo waktu itu gue pernah bentak lo. gue cuman gak mau lo deket ama gue Sha. Lo tau kenapa? Ya.. gue sakit Sha. Sakitt
banget rasanya Sha.. gue udah gak kuat.. rasanya sakit banget.. disini Sha.. di
jantung gue.. walaupun takdir gue sakit bagi gue. Tapi gue seneng takdir juga bisa
mempertemukan kita. Walaupun pada akhirnya takdir juga yang memisahkan kita..
kalo aja gue bisa milih takdir gue sendiri. Pasti gue milih di takdirin hidup
sehat. Dan bisa selalu ada di samping lo sha. Tapi takdir gue berkata lain. Ini takdir
gue.. dan gak ada yang bisa merubahnya..

Gue mau jujur sama lo Sha. Gue suka sama elo. Bahkan bukan sekedar suka tapi gue sayaaaang sama elo sha. Gue cinta sama elo.. mungkin pengakuan gue ini gak akan
berarti apa apa. Tapi gue lega bisa ngungkapin perasaan gue yang udah gue
pendem sejak lama.. sejak pertama lo masuk di sekolah yang sama ama gue..

Lo harus inget kata kata gue Sha jangan nangis…

With love,

Alfandy Himawan B. Rafli ♥

Marsha Pun Sedih dan menangis... ia pun melihat foto terakhir mereka disaat rafli masih hidup di dunia

-- The End --
----------------------------------------------------------------------

Share + Comment Yah :)

Follow ==> @donnnyrieuwpassa
kalo masih suka request yah :)

Cerpen / Cerbung Marsha Dan Rafli (RaSha): Mungkin Ini Takdir | Part 4

-- Takdir Part 4 --

 Marsha berdiri di gerbang sekolahnya sambil sesekali melirik jam tangan biru muda yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir setengah jam Marsha menunggu supirnya yang biasa mengantarkan ia pulang. Tiba tiba
HP Marsha bergetar. Tanda sebuah pesan masuk. Marsha cepat cepat menekan sebuah
tombol untuk membaca isi pesan itu.

1 new message – pak ahmad

From : pak ahmad

Aduh non. Mobilnya mogok.

Non Marsha pulang naik taksi aja ya.

Marsha mendecakkan lidahnya berkali kali. “kalo gue gak di jemput. Gue pulang ama siapa dong? Masa gue harus nungguin taksi sih. mana ada taksi di sini” ucap Marsha.

Marsha mengedarkan pandangannya ke sekolah. Sudah sepi. Yang tertinggal hanyalah Rafli yang sedang berjalan menuju motrnya yang di parkir. Marsha sempat berniat untuk nebeng ama Rafli. namun teringat kejadian beberapa hari
lalu, saat Marsha lepas kontrol mengatakan suka pada Rafli. ia menjadi segan untuk
meminta bantuan kepada Rafi. apalagi akhir akhir ini ia sudah tidak pernah
menegurnya lagi.

Marsha hanya menghela nafas lalu mulai berjalan pergi dari sekolahnya. Ia hanya berharap ada sebuah taksi yang bias mengantarkannya sampai ke rumah. Semoga saja. Semoga..

Dimana ini?

Ya tuhan.. dimana kah ini? Marsha baru sadar bahwa dirinya sama sekali tak tahu jalan. Marsha terus berjalan. Mengikuti kemana langkah kakinya membawanya. Sudah hampir satu jam ia berjalan. Namun tak ada satu ekor taksi
pun yang Nampak. Dan sekarang ia sama sekali tak tahu dimana dirinya sekarang
berada.

Marsha terduduk lemas di pinggir trotoan jalan. Jalan itu sepi. Tak ada satu kendaraan pun yang lewat. Jangankan sebuah kendaraan. Orang – orang pun mungkin segan untuk kesini. Marsha hanya duduk sambil memeluk kedua
lututnya sendiri, dan membenamkan wajahnya di antara tangannya. Ia hanya
berharap ada orang baik yang mau mengantarkannya pulang ke rumah dengan selamat..
lagi lagi hanya berharap..

Marsha bisa merasakan sebuah kendaraan yang melaju ke arahnya. Dan berhenti tepat di hadapannya. Ia mengangkat wajahnya sedikit. Ia melihat sebuah Caviga merah. Marsha mengenal motor itu. itu motor.. Rafi. ia mendongkakan
kepalanya, agar dapat melihat wajah sang dewa penolongnya. Ia hanya menatap Rafli
tanpa bersuara.

“naik..”seru Rafli

Marsha hanya diam tak bergeming. Tiba tiba saja. Ia berdiri dan memeluk Rafi. tangisnya pecah saat itu juga.

“gu.. gue.. takut.. gue.. takut..” tangisnya.

Perlahan Rafli mengangkat tangannya. Mengelus lembut rambut Marsha. Mencoba menenangkan gadis yang pernah menjadi belahan jiwanya. Mungkin sampai sekarang..

Rafli melepaskan pelukannya. Mengusap air mata Marsha dengan ujung jarinya. Dan menatap mata Marsha dengan lembut.

“lo jangan nangis lagi ya Sha. Gue ada disini. Lo gak usah takut. Gue pasti bakalan terus.. jagain lo..” ucap Rafli lirih. Apa mungkin? Apa bisa ia menepati kata – katanya sendiri. Mungkin ia hanya bisa menepatinya hari
ini saja. Esok? Siapa yang tahu. Itu hanyalah takdir yang tuhan beri untuknya.

“yaudah lo naik gih. Gue anterin lo pulang..” ucap Rafli. Marsha menurut, ia hanya menganggukan kepalanya lalu menaiki motor Rafli.

*** Rafli's Home ***

Rafli keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamarnya sambil mengeringkan rambutnya. Ia duduk di tepi tempat tidurnya dengan handuk yang menempel di lehernya. Kata kata Marsha masih jelas terdengar di telinga Rafli. “gue tau lo baik ka. Pasti lo punya alesan di balik sikap lo yang dingin”.

Ia berjalan menuju cermin. Memandangi pantulan bayangan dirinya di cermin. Tak ada yang istimewa darinya. Kenapa Marsha harus menyukainya. Hanya ada luka. Luka bekas operasi jantung yang ia lakukan setahun yang lalu.
Setahun yang lalu.. ya, semenjak saat itu ia sadar bahwa dirinya sudah tak utuh
seperti dulu. Ia tak memiliki jantung. Yang ia miliki hanyalah sebuah jantung
elektrik. Ia tahu bahwa sebuah jantung elektrik tak bisa terus terusan berdetak
di dalam tubuhnya. Seberapa tahan sih sebuah jantung elektrik. Ia yakin pasti
jantung itu akan berhenti juga. Entahlah kapan jantung itu akan berhenti.. lagi
lagi ini hanyalah takdir tuhan yang di beri untuknya. Sebuah takdir..
“gue pingin hidup.. gue.. pingin.. hidup..” lirih Rafli

-------------------------------------------------------------------

Share + Comment Yah :)

Follow ==> @donnyrieuwpassa
Yang Belum Baca Part Sebelumnya bisa liat dibawa... ato bahkan mau next klik aja yang dibawah

Cerpen Marsha Dan Rafli (RaSha): Mungkin Ini Takdir | Part 3

Cerpen Marsha Dan Rafli (RaSha): Mungkin Ini Takdir | Part 3
Rafli berjalan menuju parkiran tempat ia memarkir Caviga Merah miliknya. Namun langkahnya terhenti ketika seorang gadis memanggil namanya. Ia mengenali suara itu. karna ini bukan yang pertama kalinya gadis itu menemui
Rafli sepulang sekolah. Mungkin ini sudah yang ke lima kalinya. Atau mungkin
lebih.

Mau tak mau Rafli membalikan tubuhnya. Ia mendapati Marsha sudah berdiri di belakangnya dengan senyum lebar di wajahnya. Rafli hanya mengangkat sebelah alisnya seakan bertanya ‘mau apa lagi lo’.

“hai ka. Mm.. gini. Mm.. gimana yak..” terlihat jelas kegugupan dari wajah Marsha. Rafli benar benar sudah merasa jengkel dengan gadis satu ini. Ia membalikan tubuhnya dan berjalan pergi ke parkiran tanpa menghiraukan Marsha

Marsha menysul Rafli sambil memanggil – manggil namanya. Namun Rafli tak menghiraukannya. Tapi Marsha tak merasa putus asa sedikit pun, ia terus memanggil – manggil nama Rafli.

“ka.. ka Rafli.. ka Rafli…”panggil Marsha. Rafli berbalik ke arah Marsha.

“mau ngomong apa lo?!” Rafli setengah membentak

“itu.. mm.. jadi gini..”

“udahlah! Males gue berurusan ama orang kayak elo !!” bentak Rafli. lalu ia berbalik dan tiba tiba saja langkahnya terhenti ketika..

“gue suka sama elo ka..” ucap Marsha lantang. Rafli menghentikan langkahnya. Namun tetap membelakangi Marsha. Ia hanya diam mematung. Tapi sesaat kemudian ia tersadar. lalu Rafli berjalan pergi. Meninggalkan Marsha.. sendiri..

Marsha berdiri mematung. Ia sendiri tak bisa mengontrol perkataan yang terlontar dengan sendirinya dari mulutnya. Ia hanya bisa merutuki dirinya sendiri atas perkataan bodoh yang ia katakana tanpa bias ia
cegah. Kata kata itu terucap begitu saja saat Rafli akan meninggalkannya. Seakan
ia tak mau di tinggalkan olehnya.. oleh Rafli…

*** Rafli's Home ***

Rafli membanting ranselnya di tempat tidur. Lalu ia duduk di tepi tempat tidurnya masih dengan seragam yang menempel di tubuhnya. Ia mengacak – ngacak sendiri rambutnya.

“aarggh… maksud tuh cewek apaan sih !! seenaknya aja ngomong suka ama gue ! emang dia kira dia siapa? Berani beraninya ngomong kayak gitu ama gue.. aarrgh sialan..”ucap Rafli setengah berteriak. Rafli mengacak – acak
rambutnya lalu menghempaskan tubuhnya.

“kenapa dia harus suka ama gue? Kenapa harus dia? Kenapa juga dia itu harus suka ama gue? Kenapa harus cewek yang gue cintai ngomong suka ama gue? Kenapa harus gue?.. gue gak pantes buat elo Sha.”lirih Rafli

Rafli sudah sejak lama memiliki perasaan terhadap Marsha. Semenjak gadis itu masuk ke sekolah yang sama dengan Rafli. bahkan ia mengetahui segala sesuatu tentang Marsha. Namun perasaan itu harus di buangnya jauh - jauh
saat ia sadar bahwa dirinya tak mampu membuat gadis yang di cintainya itu
bahagia. Hanya air mata dan kesedihan yang akan ia berikan. Bukan kebahagiaan.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Like + Comment yah :)

NEXT:
Mungkin Ini Takdir Part 4:

Cerpen / Cerbung Rafli Marsha (RaSha): Mungkin ini Takdir | Part 2

Marsha berjalan menuju lapangan basket di sekolahnya. Berharap bisa menemui sosok pria yang tlah membuat jantungnya berdebar tak karuan. Ini bukan yang pertama kalinya untuk Marsha memperhatikan sosok itu secara diam –
diam. Bahkan ini sudah menjadi rutinitasnya sejak bertemu dengan pria itu.
Semakin sering ia memperhatikan pria itu, semakin besar juga perasaannya untuk
pria itu. dan tanpa sadar seulas senyum telah mengembang di wajahnya. Marsha bukanlah gadis yang gampang menyukai seorang pria. Tapi entahlah, kenapa ia
bisa memiliki perasaan yang begitu dalam terhadap pria ini. Mungkin ini yang
dinamakan ‘love at the first sight’.

Cindai menepuk pundak Marsha “Sha kok lo belom pulang sih?”

“mm.. bentar lagi.” Marsha tak mengalihkan pandangannya sedetik pun dari sosok pria itu.

“lo merhatiin siapa sih?” Cindai bertanya. Namun Marsha tak menjawab pertanyaannya. Ia mengikuti arah pandang Marsha dan menemukan sesosok kakak kelas yang menjadi idaman di sekolahnya.

“oh.. merhatiin ka Rafli toh..” gumam Cindai. Namun dapat di dengar jelas oleh Marsha.

“ka.. Rafli?” Marsha menoleh cepat ke arah Cindai.

“iya ka Rafli. cowok yang lo perhatiin itu namanya Rafli. dia itu kakak kelas kita.”jelas Cindai

“oh Rafli. mm.. tapi kok gue jarang liat dia bareng ama temen temennya ya.. kalo main basket juga pasti sendiri terus..” Tanya Marsha sambil kembali memperhatikan sosok Rafli

“gue kurang tau juga sih. tapi denger – denger sih sikapnya dia itu dingin banget ama cewek. Senyum aja susah. Apalagi liat dia ketawa. Wuih langka banget. Terus dia itu terkesan ‘kasar’ ama cewek..” jelas Cindai.
Marsha hanya manggut – manggut mendengar penjelasan dari sahabatnya yang satu ini.

Cindai melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya “gue balik duluan ya Sha.. bye..” pamit Cindai sambil berjalan menjauh dan melambaikan tangannya.

Marsha kembali memerhatikan sosok Rafli. pria yang misterius pikirnya. Dan itu membuat dirinya semakin tertarik.

Rafli menghentikan permainannya. Sepertinya ia mulai kelelahan. Ia meraih ranselnya dan menyelempangkannya di bahu kirinya. Ia menuju parkiran sambil mendrible sebuah bola basket.

“tegur? Jangan? Tegur? Jangan? tegur? Jangan? Tegur? Jangan?tegur..” Marsha bergumam sendiri. Rafli sudah semakin menjauh dari pandangannya. “tegur aja deh..” Marsha berlari lari kecil mengejar Rafli.

“ka Rafli..” Marsha setengah berteriak.

Rafli membalikan badannya. Ia melihat seorang gadis yang berlari ke arahnya. Namun tak ada ekspresi apapun di wajahnya.

“ka Rafli kan?”Tanya Marsha setelah berhasil menyusul Rafi.

“masih inget gue gak?” Tanya Marsha. Namun Marsha hanya mengerutkan keningnya. Marsha mulai membuka mulut kembali “itu.. yang waktu itu kena bola basket yang lo mainin??” Tanya Marsha. Namun ekspresi Rafli hanya datar –
datar saja. Suara pun tak ia keluarkan.

“mm.. mungkin lo lupa. Yaudah, gue Marsha..” Marsha menjulurkan tangannya dan memamerkan senyum termanisnya. Namun ekspresi Rafli tak berubah sedikit pun. Ia malah membalikan tubuhnya dan berjalan pergi. Meninggalkan
sosok Marsha.

Marsha menarik kembali tangannya. Kecewa? Ya, ia memang merasa kecewa. Namun rasa kecewanya tak mengurungkan niatnya untuk mengenal sosok Rafli lebih jauh. Ia bertekad dalam hati untuk bisa membuat Rafli tersenyum. Tidak..
bukan hanya tersenyum. Tapi tertawa. Ya. Tertawa lepas…

“Sha.. ngapain sih lo deketin si ka Rafli? kalo lo knapa – knapa gimana? Dia kan agak ‘kasar’ gitu ama cewek. Lo gak takut apa?” kata Cindai.

Marsha menggelengkan kepalanya. “nggak sama sekali..”

“gila lo Sha. Ngapain coba lo deketin cowok kayak dia.”

“yaah.. gue emang gila. Mau ikut nyamperin ka Rafli kagak lo?”

“kagak deh.. “ sahut Cindai sambil menggeleng gelengkan kepalanya.

“yaudah. Lo liat ya. Ka Rafli itu gak akan makan gue idup – idup..”

Marsha berjalan mendekat ke arah Rafli yang sedang sibuk dengan bola basketnya. Ia mendekati Rafli perlahan.

“hai ka rafli..” sapa marsha. Tak ada jawaban dari Rafli. ia hanya menoleh sekilas dan kembali sibuk dengan bolanya. Marsha mengela nafas. ‘sabar Sha.. sabar ‘ batin Marsha.

“kak gue bawain minuman nih. Lo pasti aus kan?” tawar Marsha sambil menyodorkan sebotol pocari sweat kearah Rafli. namun Rafli tetap tak menghiraukannya. Malah ia tak menoleh sedikit pun.

“yaudah. Gue simpen disini aja ya..” Marsha meletakkan sebotol pocari sweat di dekat kaki Rafli. lalu berjalan pergi meninggalkan Rafli.

Rafli menoleh kearah sebotol pocari sweat yang di letakan marsha di dekat kakinya lalu memandang punggung Marsha yang berjalan menjauh. Tanpa sadar ujung bibir Rafli tertarik sedikit demi sedikit hingga membentuk sebuah senyum
tipis.
------------------------------------------------------------------
Like + Comment yah :)

NEXT:
Mungkin Itu Takdir | Part 3 :

Cerpen / Cerbung Rafli Marsha (RaSha) : Memang ini Takdir | Part 1

Marsha tengah berlari lari kecil ke arah toilet sekolahnya. Namun langkahnya terhenti ketika seorang gadis seumuran dengannya yang bernama Cindai memanggil namanya. Sontak Marsha menoleh ke arah Cindai yang sedang berlari
ke arahnya.

“Marsha aw..”belum sempat Cindai menyelesaikan kalimatnya. Sebuah bola basket telah melesat ke arah Marsha dan membentur kepalanya.

Bukk… Marsha jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya.

Marsha mengerang kesakitan sambil mengelus – elus kepalanya yang terbentur bola basket ‘nyasar’ itu. ia meraih bola basket yang tergeletak di sampingnya.

“dasar bola basket sialan! Gak punya mata apa lo ! seenaknya aja ngebentur pala orang. Kalo gue gegar otak gimana. Emang lo bakalan tanggung jawab apa?. Ini bola punya siapa lagi?”

“punya gue..”ucap seorang cowok hitam manis yang berbadan tegap dan gagah itu.

Marsha mendongkakkan kepalanya. ia baru akan membuka mulut untuk memarahi orang yang sudah membuat kepalanya sakit itu. namun saat melihat wajahnya yang tampan, Marsha hanya memandangi orang itu tanpa berkedip sedikit
pun. Ia baru tersadar saat orang itu mengambil bola basket yang Marsha pegang dengan kasar.

“eh..” baru saja Marsha berniat untuk menanyakan namanya. Orang itu sudah berlari kearah lapangan dan mulai bermain basket kembali. Marsha hanya memandangi orang itu sambil senyam senyum sendiri.

“Sha.. lo gak papa??”tanya Cindai sambil membantu Marsha berdiri.

“hehe. Tenang aja. gue masih sehat walafiat kok.”

“oh.. syukur deh. Gue kira lo gegar otak gara – gara tuh bola basket. Lo tadi mau kemana? Main ngilang gitu aja?”

“oh.. tadi gue mau ke toilet. Kebelet! Eh.. jadi aja lupa. Gue ke toilet bentar..” Marsha kembali berlari lari kecil menuju toilet sekolahnya.

----------------------------------------------------------------------------
Minta Share + Commentnya yah :)

NEXT:
Cerpen Part 2: